10:15 AM
7:15 PM
Menerka Batas Masa Alay
7:15 PMBahas hal serius dulu sebentar sebelum bahas fakta Fir’aun... Pertumbuhan dan perkembangan manusia adalah dua kata yang hampir sama pem...
Bahas hal serius dulu sebentar sebelum bahas fakta Fir’aun...
Pertumbuhan dan perkembangan manusia adalah dua kata yang
hampir sama pemaknaannya. Kalau dilihat dari segi perubahan, pertumbuhan dan
perkembangan sama-sama memiliki dampak yang sama bagi manusia itu sendiri.
Tapi, kalau dijabarkan secara signifikan, perubahan yang diberikan pertumbuhan
dan perkembangan, sangatlah berbeda. Menurut para ahli, pertumbuhan lebih
menunjukkan bentuk perubahan ‘kuantitatif’, sedangkan perkembangan lebih
menunjukkan bentuk perubahan ‘kualitatif’ (Udah kayak skripsi nying).
Maksudnya, secara detail, pertumbuhan menafsirkan perubahan
fisik dari manusia, contohnya seperti perubahan tinggi badan, berat badan dan
proses pubertas. Lalu, perkembangan lebih menafsirkan sisi kualitas hidup
manusianya itu sendiri, contohnya adalah perubahan pola pikir dan sikap. Nah,
makanya, terbukti kalau proses perubahan yang kita alami dan rasakan sendiri
sampai saat ini, adalah bentuk dari proses pertumbuhan dan perkembangan (Masa
sih?).
Proses perubahan yang kita alami sejak dulu sampai saat ini,
adalah salah satu anugerah paling spesial yang telah diberikan Tuhan pada kita.
Tapi, nggak semua orang bisa memaknai ini secara lebih mendalam. Beberapa dari
kita, masih banyak yang menganggap kalau proses perubahan yang dialami selama
ini, sebagai ‘hal biasa’ yang terjadi begitu saja.
Anak Gaul Masa Kini : “Iyadeh, terus kenapa?”
Karena ada kalanya kita semua harus berfikir lebih kritis
terhadap sesuatu yang sering dianggap ‘hal biasa’ kayak penjelasan di atas.
Menurut gua, sadar atau nggak, ‘hal biasa’ justru bisa mengambil alih situasi
yang terjadi di sekitar kita, kalau kita sendiri cuma bisa acuh sama ‘hal
biasa’ tersebut. Bingung? Minum yakult tiap hari... (Garing nying)
Ambil contoh begini, gua pernah denger satu fakta dari turnya
Pandji Pragiwaksono yang membicarakan soal kebiasaan dan tradisi aneh
orang-orang di Tiongkok. Jadi, faktanya orang di Tiongkok mempunyai kebiasaan
aneh untuk kentut sembarangan entah dimanapun ia berada, dan terbiasa untuk
tidak menyiram ‘PUP’ nya di toilet umum, karena yang akan menyiram ‘PUP’ tersebut
adalah orang setelahnya.
Mungkin kita bakalan sangat jijik dan geli ketika tahu fakta
itu. Padahal, etika kentut dan menyiram ‘PUP’ adalah ‘hal biasa’ yang nggak
ribet cara penyelesaiannya. Nggak pernah liat kan, ada orang yang buang kentut
dan menyiram ‘PUP’ cara penyelesaiannya pakai rumus kalkulus ataupun koding algoritma?
(Terminator kali...)
Tapi, pandangan orang Tiongkok soal kentut dan menyiram
‘PUP’, sangatlah berbeda dengan kita. Mereka mungkin menganggap ‘hal biasa’
ini, menjadi hal yang benar-benar lumrah sampai menjadi sebuah tradisi selama
bertahun-tahun lamanya. Makanya, sama seperti yang gua bilang tadi, ‘hal biasa’
emang terbukti bisa mengambil alih situasi yang terjadi di sekitar kita.
So, nggak lepas dari itu semua, di tulisan ini gua akan
membahas ‘hal biasa’, yang (mungkin) dirasakan oleh semua orang di sekitar
kita. Gua akan membahas soal transisi keluar dari masa ALAY dan solusi
transformasi perubahan dewasa pada remaja (lebih khususnya di Indonesia) yang
sudah menginjak usia 19-21 tahun.
***
Mengenali Masa ALAY
Hal yang paling awal bakal gua bahas adalah, ALAY.
Sebelumnya, jangan ngaku-ngaku dulu deh kalau diri kita
sendiri udah nggak ALAY...
Kenapa? Silahkan di baca sendiri sampai akhir (He he he).
Hayo, apa sih ALAY itu?
Sebutan ALAY bisa dibilang familiar, karena semua remaja di
Indonesia mungkin pernah merasakan dan berada dalam masa ini. Generasi ALAY,
menurut gua normalnya berada di interval usia 12-18 tahun. Prosesnya pun
bertahap, dan mungkin sering mengalami perubahan di tiap generasinya. Tapi,
yang bakal gua jelaskan disini adalah generasi ALAY dalam lima sampai tujuh
tahun kebelakang, karena gua sendiri nggak tahu, apa dan gimana jenis masa ALAY
di masa lalu.
Pernah sih sesekali gua penasaran, jenis ALAY apa yang
dilakukan generasi sebelum adanya handphone dan internet... Apa mungkin
generasi di zaman itu, ketika nulis surat huruf-hurufnya bercampur besar dan
kecil? Atau mungkin disaat mau menyampaikan pesan suara berbentuk VN (Voice
Message) kepada pasangannya, mereka melatih burung beo supaya bisa mengucapkan
kalimat ‘celamat pagi ea chuyunk’?...
Yah, apa daya sampai saat ini gua pun masih berasumsi, dan
nggak pernah tahu ALAY seperti apa yang terjadi di masa lampau itu.
(Oke skip)
Nah, masa ALAY yang saat ini dikenal umum oleh orang banyak,
sangat amat berkaitan dengan sosial media. Jadi, jauh sebelum terkenalnya
Instagram, yaitu sekitar lima sampai tujuh tahun lalu, remaja ALAY Indonesia
sangat familiar memainkan sosial media yang hits saat itu, seperti Twitter dan
Facebook (Mungkin masih sampai sekarang). Fitur yang mereka sajikan adalah
media tulis, atau bahasa umunya pada waktu itu bisa disebut ‘status’.
Orang-orang di masa itu, menganggap fitur tersebut sebagai
ranah mereka dalam mengungkapkan berbagai hal yang menurut mereka patut di
publikasikan. Contohnya, mereka sering mempublikasikan kegalauan dan perasaan
mereka ketika sedang patah hati, atau sharing keseharian mereka lewat sebuah
status seperti “aduh hari ini gue abis nginjek eek tapir nih di samping
trotoar” (Pada akhirnya, lahirlah kategori anak ALAY karena hal ini). Jadi,
sebelum heboh-heboh nya me-upload foto atau video di Instagram, di zaman itu
orang-orang sudah biasa mempublikasikan utaran kalimatnya (status) di timeline
atau beranda miliknya.
Mungkin sekarang juga masih ada yang kayak gitu.
Mungkin sekarang juga masih ada yang kayak gitu.
Oke, ga lama abis zaman itu (Padahal cuma selisih lima sampai tujuh tahun), sosial media banyak berevolusi. Makanya kita pasti nggak heran kalau selfie, nulis status
galau, sharing keseharian dan hal yang dianggap eksis lainnya, jadi mewabah di
zaman serba smartphone ini. Bayangin aja, bahkan sekarang kita semua bisa
menunjukkan keseharian kita ada di mana, kita lagi ngapain, hanya dengan
membuat video berdurasi 14 detik a.k.a snapgram (instagram story), yang ada di dalam fitur
aplikasi Instagram.
Hayo, kenapa sih bisa begitu?
Kalau menurut gua, inovasi lah yang menjadi efek besar bagi
siklus perkembangan sosial media itu sendiri (Instagram contohnya). Sosial
media pun berhasil jadi faktor kuat pengubah kebiasaan orang banyak sampai saat
ini (Dalam rentan lima sampai tujuh tahun kebelakang). Karena, orang yang
biasanya sering melakukan ‘sesuatu hal’ di luar ranah internet, jadi berubah
kesehariannya ketika udah punya sosial media... Mungkin nggak semua, tapi
kebanyakan begitu adanya. Makanya, alasan kenapa sosial media banyak yang berevolusi, kalau bagi gua karena mereka tau 'manusia' itu ternyata gila pengakuan di dunia maya.
Sama halnya, ketika rata-rata dari kita akhirnya masuk ke
dalam kategori masa ALAY sebagai bentuk dari pencarian jati diri, sosial media
secara nggak langsung turut menjadi bagian yang ‘menemani’ keseharian kaum
ALAY. Menulis status, posting kegalauan, sharing segala hal yang nggak
penting-penting amat, mengganti nama akun pribadi sosial media jadi aneh atau
hal ALAY lainnya, rata-rata pernah dialami generasi remaja di Indonesia. Meski
diwajarkan karena sedang mencari jati diri, tapi ketika sudah merasa nyaman
berada dalam masa seperti itu, akibatnya akan berdampak besar terhadap mindset
yang akan tercipta di masa mendatang.
Anak Gaul Masa Kini : “Lah, kok bisa? Emang apaansih efeknya?
Heh, jangan sok tau deh lo!”
Patut diketahui, di masa pencarian jati diri, rata-rata
manusia (Nggak semua ya) cenderung mencari sesuatu atau bahkan seseorang yang
menurutnya pantas diikuti. Rasa penasaran lalu muncul dan terus-terusan
bergejolak untuk mencari tahu ‘siapa sih diri kita yang sebenarnya?’
Gua sendiri pun pernah mengalami hal yang kayak gitu (Dulu).
Jadi, ini adalah salah satu cerita gua waktu di SMA. Sampai pernah di satu waktu, saking gua mengikuti dan berteman dengan seseorang, gua dianggap sebagai hamba dari Tuhan yang sering gua sembah. Jadi, seseorang ini adalah teman gua sewaktu SMA, sebut aja “J”. Dia adalah sesosok manusia yang gua buntuti (Waktu itu) karena aura dan pengalamannya soal wanita. Entah kenapa, si “J” ini gampang banget rasanya kenal dan deket sama wanita cantik, itulah yang membuat gua tertarik untuk membuntutinya demi tips and trick soal ‘percintaan’ (Malu-maluin nying). Dan kalau melihat semua penjelasan yang gua utarakan barusan, sungguh amat berbanding terbalik sama situasi yang gua alami sendiri saat itu (Cupu nying). Kocak sih, sampai-sampai gua pun sempat dianggap berhasil jadi hamba “J” yang paling sholeh di SMA karena nyari-nyariin si “J” mulu kalau masuk jam istirahat... Makanya, si “J” ini diperlihatkan sebagai Tuhan yang menuntun gua menjadi hamba yang baik sewaktu masih SMA.
Jadi, ini adalah salah satu cerita gua waktu di SMA. Sampai pernah di satu waktu, saking gua mengikuti dan berteman dengan seseorang, gua dianggap sebagai hamba dari Tuhan yang sering gua sembah. Jadi, seseorang ini adalah teman gua sewaktu SMA, sebut aja “J”. Dia adalah sesosok manusia yang gua buntuti (Waktu itu) karena aura dan pengalamannya soal wanita. Entah kenapa, si “J” ini gampang banget rasanya kenal dan deket sama wanita cantik, itulah yang membuat gua tertarik untuk membuntutinya demi tips and trick soal ‘percintaan’ (Malu-maluin nying). Dan kalau melihat semua penjelasan yang gua utarakan barusan, sungguh amat berbanding terbalik sama situasi yang gua alami sendiri saat itu (Cupu nying). Kocak sih, sampai-sampai gua pun sempat dianggap berhasil jadi hamba “J” yang paling sholeh di SMA karena nyari-nyariin si “J” mulu kalau masuk jam istirahat... Makanya, si “J” ini diperlihatkan sebagai Tuhan yang menuntun gua menjadi hamba yang baik sewaktu masih SMA.
Tapi itu dulu, dan untungnya gua bisa berbenah diri untuk
menemukan solusi supaya bisa keluar dari masa ALAY gua sendiri... (Tetep aja
itu tadi aib nying)
Eits, gak lepas dari hal di atas, gua punya satu asumsi.
Pernah gak sih berfikir, apa mungkin, kalau zaman dulu,
Fir’aun adalah orang ALAY pertama yang pernah lahir di muka bumi ini dengan
mengaku sebagai Tuhan (?)
Soalnya gua rasa, ambisi Fir’aun mengaku jadi Tuhan adalah
cerminan dari pencarian jati dirinya sendiri yang berakhir dengan kegagalan.
Karena disaat sedang mencari tahu ‘siapa jati dirinya yang sebenarnya’, menurut
gua, Fir’aun justru menyerah dan langsung membuatnya berfikir jika kekuasaannya
adalah bukti konkrit kalau dia pantas menjadi Tuhan.
“Gua orang kaya, gua banyak harta, dan semua rakyat gua
keliatannya sih miskin. Fix kali ya gua bisa jadi Tuhan mereka” -Fir’aun
Untungnya di zaman Fir’aun, masih belum ada hal-hal eksis
kayak semisal selfie, upload foto dsb. Gak kebayang deh gimana jadinya, kalau
Fir’aun jadi orang ALAY versi zaman modern...
Mungkin temen gua tadi juga bisa jadi Fir’aun kaum milenial
kali ya kalau ngaku dirinya sebagai Tuhan beneran...
(Oke skip)
Makanya, sama seperti apa yang gua bilang sebelumnya, masa
ALAY punya dampak yang besar banget buat pola pikir kita kedepan. Dan buat
mencegah itu semua, kita sendiri harus terlebih dulu mengetahui, ‘apa aja sih
faktor masa ALAY?’.
Mengetahui Faktor Masa ALAY
Nah, dengan mengetahui sepenggal pengalaman sekaligus asumsi
gua tadi, masa ALAY yang pernah kita rasakan dulu, menurut apa yang pernah gua
lihat dan alami sendiri, bisa terjadi karena beberapa faktor yaitu:
• Faktor Gengsi
• Faktor Status atau Pengakuan Sosial
• Faktor Lingkungan
Mari bahas satu per satu.
Yang pertama, Faktor Gengsi. Berdasarkan pengalaman yang gua
rasain, gengsi ini emang kental banget sama yang namanya gaya hidup seseorang.
Soalnya, gengsi selalu menumbuhkan sesuatu yang nggak seharusnya dilakukan.
Dalam hal ini, gengsi juga jadi salah satu faktor yang ada di masa ALAY.
Karena, remaja ALAY biasanya memiliki keinginan besar untuk terlihat ‘lebih
baik’ dari orang lain di sekitarnya. Contohnya begini, remaja ALAY biasanya
memiliki keinginan lebih untuk jadi ‘HIGH CLASS’ di mata sesamanya, dan seringnya
memilih-milih untuk soal pertemanan.
Menurut gua, hal ini perlahan menjadi sesuatu yang amat
mainstream ketika para remaja ALAY justru terus melakukan hal yang sama supaya
bisa menjadi seperti yang dicontohkan barusan. Karena gengsi datangnya dari
diri sendiri, faktor ini biasanya muncul akibat suatu ego yang terlalu besar,
dan lalu ego itu berhasil menguasai semua pikiran si remaja ALAY.
Anak Gaul Masa Kini : “Apaansih lebay amat, emang lo sendiri
udah nggak ALAY hah?”
(Kalau mau tau definisi gengsi lebih dalam bisa di baca di
sini : http://resahgaksih.blogspot.co.id/2017/07/gengsi-ku-tidak-semurah-gengsi-mu.html)
Kemudian ada Faktor Status atau Pengakuan Sosial. Ini adalah
‘poin penting’ yang biasanya paling diinginkan oleh setiap manusia. Remaja ALAY
juga termasuk. Karena rata-rata dari mereka biasanya ingin menjadi yang
‘paling’ dilihat dari orang lain, bahkan dari sahabat atau teman terdekatnya
sekalipun, maka faktor ini terlihat mirip kayak gengsi. Tapi faktor ini lebih
parah, karena bagi gua ini adalah hal yang ‘sering’ jadi pengaruh pasif buat
mental rata-rata remaja di Indonesia (yang ALAY doang). Permisalannya kayak
remaja ALAY di zaman serba smarthphone ini yang mulai banyak, dan bahkan mahir
dalam mengekspos dirinya sendiri entah itu di sosial media ataupun di lingkup
sekitarnya.
Ambil contoh dari trennya snapgram atau instagram story. Rata-rata para remaja ALAY
di periode sekarang, sering menunjukkan sesuatu yang berbau ‘pamer’ agar bisa
dilihat baik oleh orang lain, bahkan bisa jadi itu semua sebenernya ‘nggak
penting-penting amat’, kayak ngejelasin lagi makan apa, lauknya apa, minumnya pake es batu apa nggak, lagi ngapain
dan sebagainya. Gua berbicara berdasarkan apa yang gua lihat selama ini, dan
menurut gua sendiri hal kayak gini bisa jadi sebuah ‘kanker’ buat generasi muda
di Indonesia (yang ALAY doang), karena nyatanya remaja ALAY banyak banget yang lakuin aktifitas kayak gini setiap hari.
Contoh lain yang juga ada sekarang ini adalah remaja ALAY biasanya punya keinginan diakui secara 'fana'. Coba tebak, ada berapa remaja ALAY yang sangat amat fanatik sama banyaknya jumlah follower dan like di Instagram? Gua pernah baca di kaskus ada yang pernah nyebut kalau ALAY di Indonesia ada empat juta orang. Banyak kan? Walau belum dibilang valid atau nggak datanya, tapi faktor pengakuan inilah yang bagi gua menjadi salah satu sebab kalau diri kita sebenarnya masih berada di masa ALAY. (Kalau termasuk fanatik, maka bersegeralah mandi besar dan taubat)
Contoh lain yang juga ada sekarang ini adalah remaja ALAY biasanya punya keinginan diakui secara 'fana'. Coba tebak, ada berapa remaja ALAY yang sangat amat fanatik sama banyaknya jumlah follower dan like di Instagram? Gua pernah baca di kaskus ada yang pernah nyebut kalau ALAY di Indonesia ada empat juta orang. Banyak kan? Walau belum dibilang valid atau nggak datanya, tapi faktor pengakuan inilah yang bagi gua menjadi salah satu sebab kalau diri kita sebenarnya masih berada di masa ALAY. (Kalau termasuk fanatik, maka bersegeralah mandi besar dan taubat)
Anak Gaul Masa Kini : “Ih sotau kan... Sirik aja deh lo,
biarin aja kali! Lo kalo iri bilang aja ya, jangan banyak bacot kayak
soundtrack tahu bulet!”
Lalu yang terakhir Faktor Lingkungan. Bagi gua faktor ini
adalah faktor yang paling vital. Karena apa? Faktor ini datangnya dari luar
diri kita sendiri, dan nggak bisa dikontrol secara langsung. Lingkungan
sejatinya adalah sumber yang nantinya bisa ngebentuk pola pikir,
sikap dan respon kita terhadap sekitar. Ini adalah bukti nyata, karena gua sendiri
merasakan efek tersebut.
Contohnya begini, ketika kita tau kalau diri kita punya satu
potensi yang bisa dikembangin kedepannya, tapi di satu sisi, kita sadar bahwa
kita berada di dalam lingkup yang orang-orangnya ‘nggak serius’. Lalu, ketika
kita ingin mengembangkan potensi tersebut, secara nggak langsung justru malah
terkubur karena potensinya sendiri akan dianggap sebagai bahan candaan atau bisa
dibilang ‘nggak dihargai’ sama lingkungannya. Akibatnya, faktor ini bisa jadi
penghambat tumbuh kembang pola pikir kita, kecuali... Diri kitanya sendiri yang
bergerak keluar dari lingkungan tersebut, agar menemukan lingkungan baru yang
bisa menerima potensi kita. Sekalipun dengan terpaksa harus meninggalkan
suasana lingkungan lama yang emang udah dirasa nyaman.
Anak Gaul Masa Kini : “Ya terus nanti gua gapunya temen dong?
Heh dasar lo penghasut, pemecah belah umat!”
(Hadeuh)
Maka, jangan pernah menyebut diri kita udah nggak ALAY deh kalau pada nyatanya keseharian kita masih dekat dengan ketiga faktor barusan (He he he).
Maka, jangan pernah menyebut diri kita udah nggak ALAY deh kalau pada nyatanya keseharian kita masih dekat dengan ketiga faktor barusan (He he he).
***
Menerka Batas Masa ALAY
“Ya lo aja yang mikirnya lebay. Sekarang udah lewat kali
zamannya masa ALAY. Bilang aja selama ini lo sirik kan sama orang-orang?”
“Yang mau eksis gua, ngapa lo yang ngurush sih?”
“Gua beli follower dari uang tabungan dan lo bilang itu ALAY,
hah!? “
Mungkin ada dari kita yang punya pemikirian kayak di atas.
Tapi yang jelas, masing-masing dari kita itu berhak dapet suatu yang lebih
positif dan bermanfaat dari masa pasca ALAY. Bahasan soal ALAY ini sebenernya
sepele. Tapi, jadi nggak sepele lagi kalau bener-bener disepelekan. Bingung?
(Sok misterius nying)
Jadi maksudnya, ketika banyak yang menganggap masa ALAY itu
sebagai tahapan kita buat meraih kedewasaan, tapi karena masih merasa masa ALAY
itu adalah sesuatu ‘hal biasa’ dan malah nyaman ada di masa ini, masa dewasa
kita sendiri secara nggak langsung akan mengalami kemunduruan. Wah itu sangat
berbahaya loh bung bagi pola pikir diri kita sendiri.
“Ya kan gua mengekspresikan diri di sosial media.“
“Namanya juga sosial media kan itu hak gua dong!“
“Sosoan tau segalanya amatsih kayak google maps!“
“Ya kan gua mengekspresikan diri di sosial media.“
“Namanya juga sosial media kan itu hak gua dong!“
“Sosoan tau segalanya amatsih kayak google maps!“
Gua hanya beropini wahai kawan.
Kalau dari perspektif gua, solusi buat mengetahui semua hal ini adalah
dengan mengenal sekaligus menata prioritas diri kita sendiri secara detail.
Kenapa? Karena hal kayak gini nggak akan pernah ditemukan di masa ALAY.
Kuncinya sih simpel, pahami semua kepentingan dan kebutuhan utama hidup kita. Tapi, geraknya yang sulit. Walaupun begitu, yang namanya proses atau transisi, pasti butuh
waktu buat merubah masa ALAY jadi masa dewasa. Bagi gua, proses perkembangan
dan pertumbuhan itu kayak main GAME, dan di setiap tahap-tahap prosesnya itu
adalah levelnya. Masa ALAY termasuk level yang ada di dalam GAME tersebut.
Makanya, kita semua emang udah seharusnya menyelesaikan level Masa ALAY untuk
bisa masuk ke level selanjutnya, bukan malah ngulangin lagi levelnya.
Terakhir... Buat yang merasa berada di interval usia 19-21
tahun, masa-masa sulit pasti akan selalu menghadang di setiap momennya. Karena menjadi dewasa itu nggak serta-merta cuma menyikapi persoalan cinta, keluar dari masa ALAY adalah bentuk transisi utama yang udah seharusnya
tumbuh di dalam diri kita masing-masing. Pun bagi yang sedang mencoba
berubah ke arah positif, mencari potensi, bakat atau passion lah yang harusnya jadi prioritas utama setelah masa ALAY.
Tapi, resiko dari itu semua adalah mungkin kita akan meninggalkan zona kenyamanan, lingkungan yang seru beserta hal 'enak' lainnya, dan emang nantinya pun akan amat sangat sulit untuk kita tinggal pergi. Tapi mau nggak mau, kalau kita punya niatan nyata untuk merubah itu semua, Tuhan pasti akan berikan jalan spesialnya.
Tapi, resiko dari itu semua adalah mungkin kita akan meninggalkan zona kenyamanan, lingkungan yang seru beserta hal 'enak' lainnya, dan emang nantinya pun akan amat sangat sulit untuk kita tinggal pergi. Tapi mau nggak mau, kalau kita punya niatan nyata untuk merubah itu semua, Tuhan pasti akan berikan jalan spesialnya.
Semoga dengan membaca tulisan ini, gua berharap kita semua
bisa tau akan jalannya masing-masing untuk menjangkau masa dewasa yang lebih
bermakna.
“Jauh lebih beda lebih baik daripada jauh lebih baik”
-Pandji Pragiwaksono-
7:08 PM
So Sial Nih Media
7:08 PMManusia... Manusia itu punya otak (Yaiyalah, lo kira di kepala lo itu apa? Jambu air?). Otak manusia itu dibuat sedemikian rupa buat be...
Manusia...
Manusia itu punya otak (Yaiyalah, lo kira di kepala lo itu
apa? Jambu air?). Otak manusia itu dibuat sedemikian rupa buat berfikir.
Berfikir, berarti punya batasan dalam melakukan sesuatu. Punya batasan dalam
melakukan sesuatu, secara nggak langsung mengimplementasikan kalau kita sebagai
manusia harus punya yang namanya etika. Etika berarti melandasi pola pikir kita
supaya nggak bertindak seenaknya. Nah, supaya nggak bertindak seenaknya, salah
satu cara mudahnya adalah dengan menjaga omongan kita.
Tapi, manusia jenis apa kalau kayak gini... (Hanya contoh)
Simpulkan sendiri lah ya~ (Sumber Foto : Screenshot Timeline Line, Screenshot Snapgram Mba Gitasav)
*gaboleh ngatain hehe*
*eh tapi dikit aja*
*by the way, itu yang komentar tentang TNI, ekspresinya kayak
kepedesan abis makan mangga micin teman tahu-tahu yang sering dijual di bis*
Hehe...
Oke skip, terlepas dari itu semua, gua akan intro sedikit...
Padahal nih, di zaman sekarang ini, ada banyak hal baru yang muncul berkat
pesatnya perkembangan teknologi. Karena itulah, saat ini manusia hidup di dalam
kondisi yang serba praktis.
Gua jadi sedikit teringat sama apa yang pernah ditulis Tim
Urban dalam Blog-nya waitbutwhy.com.
Di dalam salah satu tulisannya yang berjudul ‘Neuralink and the Brain’s Magical Future’, Tim Urban menjelaskan teori
bagaimana cara dan proses perkembangan otak manusia dari zaman dahulu hingga
saat ini. Ia juga memprediksikan jika perkembangan pesat otak manusia masih
bakal terjadi selama manusianya itu sendiri masih ada di dunia ini. Jadi nggak
heran, kalau di zaman sekarang ini hal baru telah banyak diciptakan oleh
manusia, dan bahkan, secara nggak langsung manusianya sendiri mengalir masuk ke
dalam gaya hidup baru.
Dan gaya baru yang lumrah menurut gua sekarang, adalah bersosial
media. Kenapa? Karena rata-rata semua orang di dunia ini main yang namanya
sosial media, malah bukan cuma sekedar main, tapi kebanyakan orang justru ada
yang jadi addict sama sosial media.
(Gua menyebutnya dengan ‘kefanaan
yang terlihat nyata’)
Kalau mau berbicara jumlah, sosial media ini menjadi salah
satu ranah dari kemajuan teknologi yang emang banyak banget peminatnya. Di
Indonesia aja, menurut statistik terbaru, ada sekitar 79 juta dari total 255
juta manusia di Indonesia main yang namanya sosial media. Gak percaya? Bisa
dilihat nih link yang gua kutip di bawah ini :
Heran gak sih, dengan kuantitas yang bisa dibilang sangat banyak,
tapi pada nyatanya, kualitas cara bersosial media yang ditunjukkan rata-rata
orang di Indonesia justru cerminannya seperti screenshot di atas? (Bacot nying)
Hmm...
Sebenarnya udah lama gua muak sama apa yang akan gua bahas
disini. Sampai-sampai gua rela merhatiin komentar-komentar Line Today, supaya
dapet informasi yang konkrit untuk tulisan ini... (Sosoan nying)
Tapi, pembahasan perkembangan teknologi dan sosial media sendiri
juga udah pernah gua singgung di tulisan sebelumnya yang membahas tentang
‘Pentingnya Takaran Sensitif’, dan di tulisan ini, gua akan jauh lebih dalam
mengulik situasi dan kondisi rata-rata pengguna sosial media yang ada di
Indonesia.
Kalau pada nanya, “Kenapa sih lo tertarik banget ngebahas hal
begini? Nggak penting amat,” ya... Karena gua sendiri merasa miris (mungkin hal
ini juga untuk diri gua sendiri karena gua termasuk salah satu pengguna sosial
media) melihat kebanyakan pengguna sosial media di Indonesia yang nggak tau
cara ‘bersosial di dunia maya’ dengan baik dan benar. Mungkin nih, dengan apa
yang gua resahkan disini, juga bisa jadi hal yang diresahkan banyak orang...
(Tsah)
Gua sendiri pun udah menyusun beberapa urutan sub masalah,
atau mungkin bisa dibilang siklus masalah, yang menurut gua sendiri sekarang
ini sering banget terjadi... Mari dibaca dengan seksama, supaya kita sama-sama
paham akan situasi pelik ini.
(Sosoan ngebahas gapapa lah ya)
Sensitif-nya
(Kebanyakan) Orang di Indonesia
Maksud sensitif di sini adalah, cerminan orang yang mudah
terpancing emosi dalam hal apapun. Kenapa? Karena menurut gua, orang di Indonesia banyak
banget yang begitu. Makanya... Konten di Internet bisa dengan mudahnya
memancing pengguna sosial media di indonesia. Menurut bule orang Indonesia itu ramah?
Hm... Gak semua sih. Contohnya begini nih, coba perhatiin respon mamang parkir ghoib ketika di kasih duit kurang dari
2000 rupiah, pasti biasanya (yang sering gua rasain), bakal ngomel dan kepancing
emosi buat minta uang parkir lebih, padahal kan si mamang kampret itu nggak
punya lisensi sebagai tukang parkir, harusnya kan nggak di bayar pun ikhlas
dong... (Loh, eh?)
(Pengalaman pahit bersama mamang
parkir)
Ikut-ikutan Emosi,
Ikut-ikutan Masuk ke Dalam Masalah
Nah karena sensitif menghasilkan emosi, maka secara nggak
langsung hal tersebut akan membawa mereka masuk ke dalam masalah. Emosi itu diibaratkan kayak sumbu bom, yang kalau nyala, bisa ‘meledak’ dalam seketika.
(Bayangin aja ketika lagi main
petasan dan meledak, begitulah gambarannya emosi orang Indonesia)
Seketika Jadi Manusia yang
Expert Dalam Segala Hal
Ketika emosi membawa kita masuk ke dalam masalah, semua hal
yang bersangkutan yang ada di dalam masalah tersebut menjadi sesuatu yang mahir
kita bahas. Kita seakan-akan expert
dalam membahas masalah yang bersangkutan, malah bisa jadi sosoan tau segala
sesuatu cuma dari melihat satu sisi.
(Akhirnya jadi Jimmy Neutron, dan jidatnya
benjol karena kebanyakan tau segalanya)
Yang Penting Komentar,
Mikir Belakangan
Akibatnya, dikala menjadi expert,
komentar sampah pun seakan-akan jadi solusi yang paling bagus bagi kepuasan
batin. Pada akhirnya, tidak ada waktu bagi otak untuk berfikir karena emosi
telah memuncak, dan sugesti berhasil mengarahkan untuk lebih baik berkomentar
ketimbang memikirkan apakah itu penting atau tidak.
Kalau Diciduk Polisi
Gara-gara Komentar
·
- Minta Maaf Klarifikasi
Klarifikasi adalah cara minta maaf
paling mainstream di zaman sekarang ini, apalagi kalau udah diciduk sama polisi
gara-gara komentar ‘sampah’. Jadi nggak heran, kalau ngerasa salah di Internet,
dan banyak ‘netizen’ yang notice
dengan respon negatifnya, klarifikasi menjadi salah satu cara yang instan buat
nunjukin ke semua pihak kalau dirinya menyesal melakukan hal seperti itu. (Makan-Tidur-Komentar-Dihujat-Minta
Maaf)
- Penjara atau Hukuman Lain
Ini hukuman paling berat yang bakal diterima
para kaum pengujar kebencian dan si pembuat komentar ‘sampah’. Nah, tapi meski
penjara adalah hukuman paling berat, bukan berarti membuat kapok para netizen
yang suka berkomentar negatif... (Efek sensasi diliput dan bisa masuk TV)
Kalau Nggak Diciduk
Polisi Gara-gara Komentar
- Jadi Bahan Gosip
Yap gosip. Kalau yang ini, mungkin sudah
tidak perlu dijelaskan... Karena gosip adalah kesenangan tersendiri, yang tercipta
secara otomatis pada setiap perkumpulan/populasi di Indonesia. Jadi gua rasa
ini adalah fase yang normal dalam siklus ini... (Menggores fakta setajam singlet)
- · Jadi Benci Sama Hal-hal yang Berbau Masalah Tadi
Karena sudah dalam tahap sensitif dan
terbawa oleh gosip tertentu, kebencian seakan-akan masuk ke dalam aura manusia.
Entah jenis iblis apa yang menghasut manusia bisa jadi seperti itu, tapi
menurut gua ini semua karena efek berkomentar negatif, dan hal ini bisa terjadi
pada diri pengguna sosial media.
- · Jadi Sangat Amat Sensitif, Lanjut Komentar Lagi
Fase ini yang paling lucu menurut gua. Karena yang
berkomentar negatif akan terus-terusan seperti itu, sampai penyesalan menghampirinya
di kemudian hari... Yap, siklus nya berulang kembali setelah fase ini.
Flow Chart
Sub Masalah (Bisa gua sebut sebagai ‘Alur Kehidupan Para Netizen’)
Kebayang gak sih, kalau emang sampai diancam bisa masuk
penjara, itu berarti ‘komentar negatif’ masuk ke dalam jenis tindak kejahatan
dong? Dan pembuatnya pun bisa dikategorikan sebagai penjahat (Oh nying). Menjadi
sangat amat tidak wajar kan kalau semua jenis penjahat seperti itu ditangkap? Penjara
bisa penuh, dan nanti isinya cuma orang-orang yang berkomentar ‘sampah’ di
Internet. Nanti koruptor bisa kalah dong pamornya sama jenis kejahatan kayak begini...
***
Maka dari itu, kalau balik lagi dan melihat foto screenshot
yang gua letakkan di awal tadi, cara bersosial media rata-rata orang di
Indonesia justru memperlihatan pada kita semua, kalau perkembangan otak manusia
berbanding kebalik sama apa yang telah dikatakan Tim Urban dalam tulisan di blognya...
(Downgrade quality)
Ibarat analoginya begini, ketika manusia primitif diberikan smartphone, mereka mungkin akan mengira
benda tersebut terlihat seperti sebuah ‘ganjel’ atau bebatuan aneh yang belum
pernah mereka temukan di wilayah mereka. Mungkin juga, mereka akan menggunakan smartphone tadi tidak sesuai dengan
fungsinya.
Bisa jadi, smartphone
tersebut digunakan untuk alas memotong sayuran, alat bantu berburu atau bahkan
jadi alat pijat punggung karena smartphone
memiliki mode bergetar. Bayangin aja, sama halnya seperti sebuah respon lucu yang
terjadi di dalam film The Gods Must Be
Crazy, ketika si orang primitif melihat botol jatuh dari atas langit (yang padahal
jatuh dari helicopter). Nah oleh karena itu, menurut gua, hal itu sama seperti
cerminan sosial media yang ada di Indonesia, karena para penggunannya belum
sepenuhnya tahu fungsi dan tujuan dari sosial media itu sendiri...
Mungkin ada yang berfikir seperti ini, “Resah mulu daritadi, terus solusinya apa? Jangan bacot doang
lo kayak lagi jual sabun!”
Oke oke, memang gua terlihat seperti sedang menjual sabun.
Tapi dari apa yang gua resahkan, gua telah mendapati dua solusi untuk masalah ini. Bahkan ini pure dari sudut pandang gua
sendiri... (Jadi, kalau ada yang punya sudut pandang lain, silahkan di utarakan)
Solusi pertama gua adalah, pengarahan dan pendidikan yang detail mengenai sosial media. Bahkan, jauh lebih luas dengan memberikan pengajaran soal Internet. Yap, sejenis penjelasan tentang Internet of Things tapi secara lebih signifikan~
Karena hal yang gua jelaskan di atas adalah salah satu alasan
kenapa dan mengapa, pengajaran atau pendidikan mengenai suatu kemajuan
teknologi amat sangat dibutuhkan bagi seluruh kalangan manusia yang ada di muka
bumi ini. Apalagi nih, di Indonesia amat sangat butuh yang namanya pengarahan cara
bersosial media yang baik dan ‘sesuai’.
Solusi kedua gua adalah, lebih menerapkan ketidakpedulian terhadap
urusan orang lain dengan cara merubah sudut pandang kita dalam menanggapi
sesuatu (Bingung nying). Jadi, ketika ada sesuatu yang menurut kita nggak
lazim, respon yang kita tunjukkan harus berdasarkan hal yang kita pikirkan
terlebih dahulu, seperti ‘Penting atau Tidak’ urusan tersebut untuk diri kita
sendiri. Mungkin akan amat sangat sulit diterapkan, karena mindset rata-rata kebanyakan orang di Indonesia lebih nyaman
mengomentari hidup orang lain (Solusi ini termasuk untuk diriku, sang penjual
sabun).
Tapi... Semua penerapan solusi barusan, pasti butuh yang namanya
‘proses’ untuk mencapai suatu keberhasilan. Sebenarnya masih banyak masalah yang pelik di negeri kita ini, dan sosial media
sendiri hanyalah salah satu contoh ranah bermasalah yang ada di dalam tulisan ini. Namun jika kita mengingat kembali, keyataannya sosial media memang selalu menjadi sumber masalah dalam beberapa
waktu kebelakang. Sosial media pun kerap menjadi ‘tameng’ para pengecut yang takut
mengutarakan sesuatu dihadapan banyak orang dengan berbagai konten 'pengujar kebencian'.
Sudah sepatutnya, masalah sosial media ini bisa membawa kita untuk berfikir
kalau semua hal buruk dan baik itu memang sejatinya berawal dari dalam diri kita masing-masing.
Kemauan untuk bergeraklah yang akan mengarahkan pada kita, apakah ingin hidup ‘sama seperti orang lain’ dengan kenyamanan yang tidak baik, atau
menjadi ‘beda sendiri’ demi kebaikan yang lebih hakiki?
***
”Do something good, and good things come to you”
5:44 PM
Sharing With Human 03: Pentingnya Takaran Sensitif
5:44 PMSetiap orang yang mengalami sakit, pasti membutuhkan obat untuk menyembuhkannya. Nah, biasanya, di dalam obat tersebut terdapat suatu ka...
Setiap orang yang mengalami sakit, pasti membutuhkan obat untuk menyembuhkannya. Nah, biasanya, di dalam obat tersebut terdapat suatu kandungan tertentu yang baik jika dipakai sesuai dengan takarannya. Oleh karena itu, jika pemakainnya tidak sesuai (melebihi takaran), kandungan yang ada pada obat itu akan menjadi dampak buruk dan menimpa tubuh kita sendiri.
Mungkin gua memang terlihat seperti apoteker yang sedang memberi
resep obat bisul kepada seorang pasien. Tapi, apa yang gua analogikan barusan,
itu sama persis dengan apa yang ada di kehidupan nyata manusia, semua hal yang
ada di dunia ini pasti butuh yang namanya TAKARAN.
Sejenak gua jelaskan, apa maksud TAKARAN yang akan dibeberkan
pada tulisan ini.
Arti TAKARAN dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ‘alat
untuk menakar’, ‘ukuran’ atau dalam kata lain ‘batasannya sudah ditentukan’.
Itulah mengapa setiap manusia yang hidup di dunia ini nggak diperbolehkan
melakukan sesuatu yang berlebihan, karena berlebihan itu termasuk bentuk yang
keluar dari batasan suatu TAKARAN. Tapi, TAKARAN yang gua maksud di sini hanyalah
sebagai kata kiasan yang digunakan untuk mendeskripsikan kalau setiap manusia
yang hidup di dunia ini punya batasan dalam melakukan sesuatu (Biar asik aja
cyin).
Batasan itulah yang harus bisa kita kontrol sendiri. Kenapa?
Karena emang, hanya diri kita sendiri yang bisa membatasi apa yang akan kita
lakukan. Kunci utamanya sih cuman satu, yaitu kemauan bergerak dalam upaya
menahan segala hal yang sekiranya berlebihan, dan juga beradaptasi dengan situasi.
Dan pada dasarnya, semua itu bakal sangat amat sulit tuk dilakukan, tapi apa
salahnya sih dicoba? (Ngomong doang mah gua juga bisa udel bunglon)
Bingung ya? Kalau bingung... Ambil contoh begini, ada satu kisah
dalam cerita Harry Potter, soal Voldemort yang jadi jahat setelah bisa
menguasai kekuatan Black Magic atau
dalam bahasa perdukunan biasa disebut dengan ilmu hitam. Di sisi lain,
Voldemort sebenarnya adalah salah satu jebolan penyihir yang terbilang cerdas di
sepanjang masanya bersekolah di Hogwarts.
Tapi, karena rasa penasaran yang berlebihan terhadap sihir,
ia menjadi kalap dan ingin mendapatkan semua kekuatan yang ada di dalamnya.
Musuh Harry Potter itu kemudian keluar dari batasannya sendiri. Voldemort juga kehilangan
akal untuk membatasi rasa penasarannya, dan ia justru lebih mengikuti hawa
nafsunya agar bisa menguasai semua jenis kekuatan sihir. Maka dari itu, ia
akhirnya menjadi jahat, dan tampilan wajahnya pun berubah seketika setelah
hidungnya hilang entah kemana.
Meskipun begitu keadaanya, Voldemort yang jahat itu akhirnya
mati. Dan saat ini, hal itupun bukanlah sebuah masalah besar lagi. Karena pada
kenyataannya pun Voldemort bukanlah masalah besar bagi kita...
Nah, bisa dilihat kan, kecerdasan juga bisa berdampak buruk
jika kita sendiri tidak bisa mengontrolnya, dan bahkan kalau sampe keluar dari
batasan, efek negatif bakal terus menimpa kita. Ya salah satu efeknya, bisa aja
kita jadi kehilangan idung atau meninggal seperti apa yang terjadi pada
Voldemort (Lucu xianying). So bisa kebayang kan apa yang bakal terjadi kalau
kita melakukan sesuatu yang keluar dari batasan?
Tapi, terlepas dari itu semua, sekarang ada hal yang jauh
lebih meresahkan daripada kisah Voldemort, dan bagi gua hal tersebut justru jauh
lebih buruk. Mungkin, bisa dibilang jika yang gua resahkan saat ini adalah
sumber kekacauan yang mungkin juga dirasakan oleh rata-rata orang di Indonesia.
Mengapa gua bisa bilang begitu? Mari kita bahas satu-satu.
Yang pertama... Di zaman sekarang ini, seluruh dunia sudah dipenuhi
dengan layanan teknologi canggih. Semua hal berbau teknologi, sampai toilet pun
sekarang banyak yang menggunakan fitur ‘Automatic
Wash’ (Tinggal tekan tombol, bisa cebok dengan sendirinya). Bahkan, di
setiap sudut perkotaan, disediakan fasilitas publik yang berbasis ‘Future Technology’, yang berfungsi guna
memudahkan setiap orang dalam melakukan sesuatu (Vending machine contohnya). Ditambah
lagi, perkembangan teknologi gadget
atau smartphone sering menjadi hal
yang terbilang lumrah terjadi di tiap tahunnya. Karena itu, rata-rata semua hal
saat ini berbasis teknologi, dan teknologi jadi semakin sensitif penggunaannya.
Efeknya, kita jadi haus akan teknologi, dan teknologi sendiri
menjelma menjadi sumber obat buat ‘sakit’ kita (Obat pemuas kebutuhan tersier).
Tapi, hal ini justru yang menjadi momok untuk para penggunannya (khususnya di
Indonesia). Pasalnya, mereka semua nggak bisa menahan arus yang ada pada
perkembangan terknologi canggih, dan malah ikut-ikutan jadi sensitif.
Nah, yang kedua... Kenapa hayo rata-rata pengguna yang
khususnya orang di Indonesia itu ‘malah ikut-ikutan jadi sensitif’? Alasannya sih
simpel... Karena semua hal tadi bermuara dari aktifitas baru orang-orang di
Indonesia, yang saat ini mahir dalam bersosial media.
Sosial media saat ini seakan-akan menjadi sesuatu yang ‘harus
ada’ dalam hidup manusia. Sosial media pun secara nggak langsung telah jadi bagian
dari ‘penyembuh’ rasa keinginan berlebih untuk bisa eksis di hadapan publik.
Maka dari itu, rata-rata orang di Indonesia beranggapan jika mahir dalam
bersosial media berarti sudah termasuk ‘manusia kekinian’ (Hmm sungguh
menarique).
Padahal, kita punya sebuah TAKARAN dalam membatasi diri dari
sosial media. Tapi ketika kita keluar dari ‘zona’ TAKARAN tersebut, secara
bertahap, kita akan mengalami penurunan jiwa sosial terhadap sesama, yang
secara langsung bakal berdampak besar pada kehidupan nyata. Karena sebenarnya,
sosial media hanya bisa mendekatkan yang jauh, namun menjauhkan yang dekat.
Gua akan sedikit ber-intermezo.
Jadi, pada dasarnya sosial media adalah salah satu ranah dari
perkembangan teknologi. Dibuatnya sosial media sendiri, bertujuan untuk
menjaring komunikasi secara luas dan tempat untuk berbagi informasi. Tapi
menurut gua, rata-rata orang di Indonesia sekarang, malah menambahkan tujuan
utama dari sosial media itu sendiri. Bagus sih kalau menambahkan tujuan sosial
media ke hal yang lebih positif, tapi pada nyatanya? Malah melesat jauh ke hal
yang lebih negatif.
Salah satu tujuan negatif yang menurut gua telah menjadi ‘penyakit
kanker’ dan sudah menyebar ke rata-rata masyarakat Indonesia pengguna sosial
media adalah soal membuat komentar ‘sampah’, yang dipicu karena merasa tersindir
atau mudah terpelatuk, dengan kata lain SENSITIF berlebihan (Baper maksimal
bosq). Contoh simpelnya bisa dilihat pada kolom komentar yang ada di sebuah postingan
viral atau konten-konten terkenal lain, yang isinya bisa dibilang kontroversial
di sosial media. Tapi, kalau memang konten tersebut dirasa kontroversial, coba
pikir deh, apakah pantas sebuah komentar ‘sampah’ terus menjadi hal yang sering
muncul di konten sosial media?
Bahkan, saat ini pun sebuah label ‘pengujar kebencian’
menyemat di kebanyakan akun-akun di sosial media. ‘Pengujar kebencian’ sendiri
biasanya sering berada di belakang akun yang berisikan konten sara atau konten
pemicu ‘sumbu emosi’ para pengguna sosial media. Hal itu dibuat bertujuan untuk
mengajak publik pengguna sosial media untuk ‘ikut-ikutan’ berada di dalam sebuah
konflik, dan konflik ini biasanya telah menjadi viral terlebih dahulu. Di sisi
lain, tujuan utama ‘pengujar kebencian’ juga adalah mencari keuntungan.
Maka dari itu, rata-rata kebanyakan orang di Indonesia sangat
SENSITIF dalam menyikapi hal yang gua jelaskan di atas. Mereka tidak bisa
menakar, mana yang seharusnya dilontarkan dan mana yang tidak dalam berkomentar
di sosial media. Jadi, jangan heran, kalau komentar ‘sampah’ sering sekali
muncul di banyak kolom komentar sebuah konten yang ada di sosial media.
Meresahkan bukan? (Kalo nggak juga gapapa kok, aku ikhlas)
Menurut gua, SENSITIF sendiri sebenarnya adalah sebuah bentuk
kepekaan terhadap sesuatu, tapi karena berlebihan, itu semua dengan cepat
berubah jadi ‘bencana besar’ bagi pikiran kita sendiri. Itulah mengapa kita
semua butuh yang namanya TAKARAN SENSTIF untuk membatasi cara berfikir kita dalam
menyikapi sesuatu.
Karena pada dasarnya manusia itu diciptakan untuk saling menghargai
dan bersikap baik terhadap sesama. Namun, karena kasus yang gua resahkan adalah
kebiasaan baru yang melanda rata-rata orang di Indonesia, semua hal mendasar
yang seharusnya manusia lakukan justru mulai ditinggalkan. Kalau dicermati
baik-baik, bisa jadi, kebiasaan berkomentar buruk di sosial media adalah salah
satu faktor yang dengan cepat merubah mindset
orang Indonesia. Jadi, kalau tidak berkomentar, menurut mereka ada sesuatu yang
kurang dalam hidupnya.
Kalau memang seperti itu, bukankah akan lebih baik jika
melakukan kebiasaan yang lebih positif daripada hanya melontarkan komentar di
sosial media? Bayangkan, berapa banyak waktu yang sudah di sia-sia kan hanya
untuk berkomentar dalam sehari. Kalau boleh di asumsikan, jika dalam satu hari
saja kita mengorbankan waktu dua sampai tiga jam waktu kita hanya untuk
berkomentar, total kita akan kehilangan 14-21 jam waktu dalam seminggu. Itu
berarti kita berhasil membuang waktu dengan percuma hanya untuk hal yang tidak
penting.
Coba bayangkan, sebenarnya kita bisa melakukan aktifitas yang
lebih bermanfaat dengan waktu yang sebanyak itu. Anggap saja waktu 14 jam dalam
seminggu itu tadi, kita bisa pakai untuk membaca buku ‘Cara Sukses Berternak
Iguana’ (Contoh), itu berarti dalam satu hari kita akan habiskan dua jam waktu
kita untuk membaca buku tersebut.
Misal, buku yang kita baca itu mempunyai 28 bab, dan kita di
asumsikan bisa membaca dua bab selama dua jam yang akan kita habiskan dalam sehari.
Itu berarti, kurang lebih, dalam dua minggu saja kita sudah berhasil membaca
semua isi bukunya, dan mungkin saja kita juga berhasil menguasai semua langkah
sukses yang ada di dalam isi buku ‘Cara Sukses Berternak Iguana’ tersebut. Kemudian,
semua langkahnya bisa kita ikuti dengan maksimal, dan kesuksesan yang sama
seperti apa yang buku itu katakan berdampak positif kepada diri sendiri. Pada
akhirnya ternyata kita berhasil menjadi salah satu peternak Iguana tersukses di
Indonesia berkat buku itu (Gokil kan).
Secara nggak langsung, sugesti kesuksesan yang ada di dalam
isi buku ‘Cara Sukses Beternak Iguana’ sontak bakal mengubah pola pikir kita. Itu
berarti, hal yang kita lakukan selama dua jam dalam sehari tadi jauh lebih
bermanfaat ketimbang melontarkan komentar ‘sampah’ di sosial media.
Jadi sekali lagi, daripada terlalu SENSITIF ada baiknya kan
untuk difikirkan terlebih dahulu, seberapa penting sih kita sampai harus berkomentar
‘sampah’? (Mending ternak Iguana yekan? He he)
Nah, maka dari itu TAKARAN SENSITIF harus dibangun semaksimal
mungkin supaya kita sendiri nggak kewalahan dalam menyikapi sebuah permasalahan.
Itu berarti, dalam konteks membatasi cara berfikir kita masing-masing.
Membatasi di sini bukan berarti kita tidak diperbolehkan tuk memikirkan solusi
dari sebuah masalah, tapi hal ini lebih merancu pada kepekaan kita dalam
menanggapi suatu hal. Kalau sugesti kita mengalir ke arah pikiran negatif (Yang
bisa dibilang SENSITIF) dan bakal memicu konflik, maka itulah yang harus kita
batasi. Coba deh dari sekarang, kita mulai menakar cara berfikir kita sendiri, supaya
kepekaan yang terlalu SENSITIF nggak lagi muncul di pikiran kita ke depannya.
Yoi bro? (So asik lo alis ketombe)
“Your life is founded on the principal that all the way of
thinking have limits”
9:17 PM
Gengsi Ku Tidak Semurah Gengsi Mu
9:17 PMSecara gak sadar kita kadang menjalani hidup ini penuh dengan rasa egoisme yang tinggi. Memang sih sepatutnya manusia hidup demi mementin...
Dilihat dari kenyataanya, rasa egoisme yang muncul dalam diri
kita biasanya datang disaat kita merasa lebih ‘mampu’ (dalam hal apapun)
ketimbang orang lain. Hal ini yang membuat kita berfikiran untuk menumbuhkan
rasa ‘kemampuan diri’ yang lebih dihadapan orang lain (Jago main kelereng
misalnya), dan cenderung untuk acuh terhadap seseorang yang menurutnya dibawah
kategori ‘mampu’ tadi.
Hal tersebut terbukti, dan salah satunya bisa terlihat dari
rata-rata manusia saat ini yang kebanyakan lebih mementingkan brand ataupun trend demi kebutuhan sandang mereka, yang harus segera dipenuhi
tanpa melihat manfaatnya terlebih dulu (Butuh kagak, yang penting gayak). Lumrah
sekali terjadi sekarang ini, jika memakai suatu merk atau brand terkenal, lebih merasa punya ‘kelas’ ketimbang yang nggak
pake. Atau dengan kata lain GENGSI nya besar.
Padahal kita semua tau kalo sebenernya dari dulu manusia
menciptakan sesuatu itu berdasarkan kebutuhan yang emang bermanfaat banget untuk
kehidupan, bukan untuk gaya hidupnya. Ambil contoh Thomas Alfa Edison, beliau
adalah penemu bola lampu dan kita semua tau kalo penemuannya ini adalah salah
satu yang paling berpengaruh vital bagi perkembanagan peradaban manusia. Beliau
menciptakan penemuan tersebut karena bukan atas dasar rasa egoisme atau GENGSI
tadi, tapi jauh lebih ke pemikiran visioner, melihat jauh ke masa depan.
Coba bayangin kalo Thomas Alfa Edison cuma menciptakan sebuah
tren fashion dan bukan bola lampu. Misal beliau hanya berhasil menciptakan
pensil alis menyala yang sebelumnya mengalami kegagalan sebanyak 1001 kali.
Penemuannya ini kemudian dipublikasikan dan diterapkan ke seluruh penjuru
dunia, semua orang akhirnya memakai pensil alis menyala ini. Dan dunia terasa
gelap karena yang bercahaya hanya seoonggok alis dari para pengguna pensil alis
menyala tadi.
Sungguh sejarah bakal kacau balau kalau hanya penemuan ini
yang tercipta, maka dari itu para penemu atau ilmuan terdahulu sangatlah jauh
dari pemikiran GENGSI dan gaya hidup glamour,
dikarenakan semua itu demi berlangsungnya peradaban manusia yang lebih baik.
Lantas, kenapa sih setiap orang punya rasa GENGSI? Jawabannya... Karena setiap orang punya takaran rasa egoisme yang
berbeda-beda. Takaran dari rasa egosime itu sendiri adalah sebuah bentuk dari
tolak ukur GENGSI masing-masing individu, entah itu dilihat dari segi sosial,
ekonomi ataupun lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, setiap individu
menganggap bahwa GENGSI yang ia buat jauh lebih mahal dari GENGSI individu
lainnya.
Hal inilah yang membuat seakan-akan setiap orang terhipnotis
untuk mencoba terlihat lebih baik daripada orang di sekitarnya. Menganggap bahwa
harga dirinya jauh diatas orang lain dan menanggap orang lain tersebut sebagai
sumber ‘penonton’ dari apa yang ia perlihatkan secara tidak langsung, dalam
artian ‘tersirat’.
Namun, salah jika kita mengira kalo GENGSI adalah bagian dari
harga diri, yang kadang sampai rela dikorbankan hanya demi sebuah GENGSI.
Menurut gua sendiri hal ini adalah suatu tindakan yang salah besar, kalo
dipikir-pikir justru GENGSI lah yang menjatuhkan harga diri kita.
Padahal nih, emang kalau kita penuhi rasa GENGSI yang ada
dalam diri kita, batin kita bakal puas?
Ya tentu aja enggak dong. Karena yang
namanya rasa kepuasan dari seorang manusia itu gaakan ada habisnya, bahkan
malah terus menerus bertambah seiring berjalannya waktu. Maka dari itu, GENGSI
jadi salah satu hal yang merugikan diri kita sendiri.
Dilihat dari sisi lainnya, GENGSI adalah salah satu sumber
dari segala masalah sosial, itu dikarenakan GENGSI menjadikan setiap
individunya terlihat saling ‘show off’
satu sama lain dan hal itu membuat kesenjangan sosial menjadi semakin renggang
layaknya hubungan dengan mantan... (Mantan pembantu maksudnya). Gua sendiri
berfikir kalau GENGSI itu sendiri memang membuat kesenjangan sosial di
masyarakat kita menjadi sangat jauh. Oleh karena itu dengan mengurangi GENGSI
dari dalam diri kita sendiri dapat mengurangi kesenjangan sosial yang ada di
negeri kita ini, terdengar lebay sih tapi salah satu solusinya bisa demikian.
Jika menyinggung hal yang sangat dekat dengan orang-orang di
zaman sekarang ini bisa terlihat dari beberapa kebiasaan dan keseharian yang
terbilang ‘Hitz’. Bisa diambil contohnya dari booming-nya Fidget Spinner selama beberapa bulan terakhir ini, dikarenakan
fungsinya yang disebut-sebut sebagai alat penghilang rasa bosan atau penghilang
stres. Mungkin secara fungsi alat ini mempunyai suatu hal yang positif dan
berguna untuk keseharian kita, namun berbalik negatif jika tidak sesuai dengan
fungsi penciptaan alat yang bentuknya mirip seperti gangsing itu.
GENGSI harus memiliki Fidget Spinner menyeruak dan cepat
tersebar bak penyakit cacar yang menyerang rakyat Spanyol di zaman dulu, semua
isi sosial media berisi tentang Fidget Spinner, berita tren di Line Today banyak
yang membicarakan Fidget Spinner, dan sampai yang paling tidak lazim adalah
orang-orang yang menebar GENGSI demi cap “yang penting gua punya Fidget
Spinner” daripada melihat seperlu apa harus memiliki barang mungil berputar
itu.
Tapi yang gua maksud disini, bukan hanya tentang Fidget
Spinner, penjelasan barusan mencakup semua hal yang berhubungan sama GENGSI,
entah itu harta ataupun status sosial yang menjadikan diri kita sendiri
memiliki rasa egoisme tinggi pemicu GENGSI. Fidget Spinner hanyalah sebagai
contoh yang sedang ‘Hitz’ saat ini dan semua orang tahu akan hal itu, karena
pada dasarnya Fidget Spinner ini memang bagian dari tren dunia sesaat.
Hal lain penimbul rasa GENGSI pun sama seperti itu, membuat
seolah-olah hidup kita lebih baik ketimbang orang lain yang padahal kita semua
tau kalau kita semua diciptakan dari unsur yang sama, dari tanah, dan akan kembali
lagi ke tanah untuk waktu yang tidak dipastikan kapan.
Mengatasi rasa egoisme tinggi pemicu GENGSI salah satunya
dalah dengan mengetahui apa prioritas utama kita sendiri. Prioritas ini
mencakup yang mana yang dibutuhkan dan yang mana yang hanya sebatas kemauan
semata, pusing? Minum kombantrin... Seperti siput yang ingin mencari rumah
baru, jika ia mencari sesuatu lain yang ia mau ketimbang prioritas kebutuhannya
yaitu mencari rumah baru, siput itu selayaknya akan merasakan sebuah kerugian,
walaupun puas secara keinginan, tapi hal tersebut tidak terpenuhi secara batin.
Sebuah pemikiran visioner atau pemikiran jangka panjang yang
gua jelaskan di awal tadi adalah bagian dari solusi ‘pelebur’ GENGSI yang ada
dalam diri kita. Memikirkan sebuah prospek kedepan jauh lebih baik ketimbang
memuaskan GENGSI, siapa yang tau kalau kita punya pemikiran yang visioner, kita
jadi punya kontribusi besar buat negara kita ini... (Jadi pemberantas generasi
alay misalnya), ketimbang punya rasa GENGSI yang malah ujung-ujungnya cuma jadi
selebgram penuh haters dan masuk
pemberitaan di Line Today, sangat disayangkan bukan? (Just saying)
Oleh karena itu, ubahlah cara berfikir kita mulai dari
sekarang dan tiadakanlah GENGSI dari diri kita masing-masing agar tercipta
sebuah generasi dengan individu yang penuh dengan pemikiran subjektif dan
objektif, bukan sebuah pemikiran yang sensitif.
“Yang tahu menahu soal diri kita adalah kita sendiri. Dan biarkanlah
Tuhan yang menilai, manusia mana yang baik dan manusia mana yang ingin dilihat
baik”





